Manusia dan Cinta Kasih , Penderitaan dan Keadilan
Minggu, 17 Mei 2020
Rabu, 22 April 2020
MANUSIA DAN CINTA KASIH, PENDERITAAN DAN KEADILAN
MANUSIA DAN CINTA
KASIH, PENDERITAAN DAN KEADILAN

Oleh:
Hasan
(B04219016)
Hikmah Maulidia N (B04219017)
Kelas D1 Manajemen Dakwah
Dosen Pengampu:
Baiti Rahmawati, M.Sos
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
2020
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
puji syukur atas kehadirat Allah S.W.T. yang telah memberikan rahmat, taufik
serta hidayahnya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat
waktu. Sholawat serta salam kami haturkan kepada Baginda Nabi Muhammad S.A.W.
yang telah menunjukkan kita pada Agama Islam.
Makalah ini
membahas “Manusia dan Cinta Kasih, Penderitaan dan Keadilan” dengan sistematis
pembahasan mengenai manusia dan cinta kasih, macam-macam cinta, cinta diri,
cinta kepada sesama manusia, adil dan belas kasih (cinta), pertemuan dan cinta,
rasa kasihan cinta dan persahabatan, cinta seksual, cinta kebapakan, cinta
kepada rosul, cinta kepada ibu bapak, penderitaan, dimensi dan kebutuhan
manusia, contoh penderitaan, sebab munculnya penderitaan, keadilan, macam-macam
keadilan, kejujuran dan kecurangan.
Ucapan
terimakasih tak lupa kami sampaikan kepada Ibu Baiti Rahmawati, M.Sos selaku
pembimbing mata kuliah Ilmu Alam Dasar/ Ilmu Budaya Dasar/ Ilmu Sosial Dasar,
terimakasih kepada Badan Perpustakan dan Kearsipan Jawa Timur dan juga
Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya yang menyediakan
berbagai buku untuk mempermudah menyelesaikan tugas ini, serta teman-teman yang
saling membantu dan meringankan dalam pembuatan makalah ini.
Dalam penyusunan
makalah ini tentunya sangat banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu,
kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan untuk kedepannya lebih baik
lagi dan terimakasih kepada para pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk
membaca makalah ini.
Demikian makalah
ini kami susun, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua dan bisa dijadikan
sumber pengetahuan dan ilmu untuk kita. Amin.
Surabaya,
02 Februari 2020
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………1
BAB I
PEMBAHASAN
A. MANUSIA
DAN CINTA KASIH
a. Pengertian…...…………………………………5
b. Cinta
diri …………………………………......10
c. Cinta
kepada sesama manusia………………..11
d. Adil
dan belas kasih (cinta)…………………..13
e. Pertemuan
dan cinta………………………….14
f. Rasa
kasihan cinta dan persahabatan………...15
g. Cinta
menurut ajaran agama………………….22
h. Cinta
seksual…………………………………23
i.
Cinta kebapakan……………………………...24
j.
Cinta
kepada Allah…………………………..25
k. Cinta
kepada rosul……………………………26
l.
Cinta Kepada ibu bapak……………………...27
B. MANUSIA
DAN PENDERITAAN
a. Pengertian…………………………………….29
b. Dimensi………………………………………34
c. Kebutuhan
manusia………………………….34
d. Contoh
penderitaan…………………………..35
e. Sebab munculnya penderitaan……………….38
C. MANUSIA
DAN KEADILAN
a. Pengertian…………………………………….40
b. Macam-macam
keadilan……………………..47
c. Kejujuran
…………………………………….51
d. Kecurangan…………………………………...54
e. Pemulihan
nama baik………………………...57
BAB II
PENUTUP
Kesimpulan……………………………………….62
DAFTAR PUSTAKA…………………………...64
BAB I
PEMBAHASAN
Manusia dan Cinta Kasih
Cinta
Kasih merupakan dua kata yang sering kita dengar. Dalam kehidupan sehari-hari
cinta kasih yang pertama kali kita dapatkan yaitu cinta kasih dari orang tua. Apa
yang telah diberikan oleh orang tua kepada kita pastinya penuh dengan ketulusan
dan keikhlasan. Pengorbanan orang tua juga salah satu wujud cinta kasih kepada
anak-anaknya. Tanggung jawab orang tua pada anak-anaknya tak terlepas juga dari
rasa ketulusan cinta kasihnya.
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, Balai Pustaka 1996), cinta adalah rasa
sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa sangat kasih atau
sangat tertarik. Sedangkan kata kasih , artinya perasaan sayang atau cinta
(kepada) atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian, arti cinta dan kasih itu
hampir sama sehingga kata kasih dapat dikatakan lebih memperkuat rasa cinta.
Oleh karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang)
kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.[1]
Walaupun
cinta kasih mengandung arti yang hampir sama, antara keduanya terdapat
perbedaan, yaitu cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam,
sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah kepada
orang yang dicintai. Dengan kata lain, bersumber dari cinta yang mendalam
itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata.[2]
Secara
sederhana cinta bisa dikatakan sebagai panduan rasa simpati antara dua makhluk.
Rasa simpati ini tidak hanya berkembang diantara pria dan wanita, akan tetapi
bisa terjadi antara pria dengan pria atau wanita dengan wanita. Contoh yang
mudah dimengerti untuk ini dapat kita lihat pada hubungan cinta kasih antara
seorang ayah dengan anak laki-lakinya, atau antara seorang ibu dengan anak
gadisnya.[3]
Dalam
lingkup keluarga dan pernikahan cinta merupakan landasan atau pegangan dasar
yang menjadikan hubungan menjadi lebih erat. Di Masyarakat pun dibutuhkan rasa
cinta kasih agar lebih akrab dalam hubungan sosial. Begitupun dengan sang
pencipta, kita seorang hamba harus memiliki rasa cinta kasih kepada sang
pencipta agar lebih Ikhlas menjalankan semua perintah dan menjauhi larangannya.
Dalam
lingkup psikologis, Cinta kasih mengandung arti yang mendalam, sulit
didefinisikan dengan rangkaian kata-kata. Mungkin dapat diberi arti tertentu
apabila sudah diwujudkan dalam tingkah laku manusia terhadap manusia lainnya,
atau terhadap alam sekitarnya, atau terhadap tuhannya. Manusia adalah makhluk
tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain. Manusia
mempunyai akal, perasaan, kehendak. Dengan unsur-unsur budaya ini manusia
menilai, merasakan, menghendaki adanya kebutuhan cinta kasih. Apabila cinta
kasih itu tidak ada, atau tidak dibutuhkan, sulit digambarkan adanya
masyarakat, sulit dibayangkan perkembangan manusia penghuni bumi ini, dan sulit
adanya kedamaian diantara manusia. [4]
Cinta
kasih bersumber pada unsur rasa, yang merupakan ungkapan perasaan, didukung
oleh unsur karsa, yang dapat berupa tingkah lakudan dipertimbangkan dengan akal
yang menimbulkan tanggung jawab. Dalam cinta kasih tersimpul pula rasa kasih
sayang, kemesraan, belas kasihan, pengabdian. Cinta kasih yang disertai dengan
tanggung jawab menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kedamaian antara
sesame manusia, antara manusia dan lingkungan, dan antara manusia dan tuhan.[5]
Apabila
dirumuskan secara sederhana, cinta kasih adalah perasaan kasih sayang,
kemesraan belas kasih, dan pengabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang
bertanggung jawab. Tanggung jawab artinya akibat yang baik, positif, berguna,
saling menguntungkan, menciptakan, keserasian, keseimbangan, dan kebahagiaan.[6]
Sedangkan sayang dapat di kaitkan dengan kasih karena
dalam sayang di wujudkan secara lebih nyata rasa cinta seseorang. Sayang
menurut kamus besar bahasa indonesia di artikan kasihan. Oleh karena itu kasih
sayang di artikan sebagai cinta kasih, atau amat suka akan ( kepada ). Dengan
demikian, maka sayang memperkuat rasa kasih seseorang yang di wujudkan dalam
tindakan yang nyata dan semuanya bersumber dari rasa cinta[7]
Macam – macam cinta
1. cinta persaudaraan artinya di wujudkan manusia dalam
tingkah atau perbuatannya. Cinta persaudaraan tidak mengenai adanya batas –
batas manusia yang berdasarkan suku, bangsa, ataupun agama. Dalam cinta ini
semua manusia sama yaitu sebagai makhluk ciptaan allah.
2. cinta keibuan yang artinya kasih sayang yang bersumber
pada cinta keibuan, yang paling asli adalah yang terdapat pada diri seorang ibu
terhadap anaknya sendiri. Seorang ibu yang memperoleh benih anak dari suaminya
yang tercinta akan memelihara anaknya secara berhati – hati dan penuh kasih ibu
demi keselamatan turunannya. Selain anak lahir melalui penderitaan ibu yang
hebat, di rawat dan di asuh sang mutiara hatinya itu penuh dengan kasih sayang[8]
3. cinta erotis yang berasal dari kasih sayang yan
bersumber dari cinta erotis ( sifat membiharikan ) memang suatu yang sifatnya
ekslusif ( khusus ) sehingga sering memperdayakan cinta yang sebenarnya.
4. cinta diri sendiri yang artinya kasih sayang yang
bersumber pada diri sendiri ( self love ). Telah di temukan bahwa di samping
mencintai sesama manusia, seseorang perlu juga memiliki cinta kepada diri
sendiri, jadi cinta diri sendiri
adalah mengurus dirinya sendiri sehingga kebutuhan
jasmani dan rohaninya terpenuhi secara wajar.[9]
Cinta
diri
Al-quran telah mengungkapkan cinta alamiah menusia
terhadap dirinya sendiri, kecenderungan untuk menuntut segala sesuatu yang
bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan menghindari dari segala sesuatu yang
menbahayakan keselamatan dirinya, melalui ucapan nabi swa. Bahwa seandainya dia
mengetahui hal hal yang ghaib, tentu dia akan memperbanyak hal hal yang baik
bagi dirinya dan menjauhkan dirinya dari segala keburukan
“....dan sekirannya aku mengetahui yang gaib, tentulah
aku akan memperbanyak kebaikan bagi diriku sendirindan aku tidak akan di timpa
kemudaratan...” (QS.7:188)
Demikian pula :
“manusia tidak jemu jemu memohon kebaikan, tetapi jika
mereka di timpa malapetaka, dia menjadi putus asa lagi putus harapan”
(QS.41:49)
Manusia cinta pada dirinya agar terus menerus di karunia
kebaikan, tetapi apa bila di timpa bencana, ia menjadi putus harapan
Secara alamiah manusia yang mencintai dirinya sendiri.
Sebaliknya, manusia membenci segala sesuatu yang menghalangi hidupnya atau yang
menghambar aktualisasi dirinya. Manusia membenci segala sesuatu yang
mendatangkan penderitaan, rasa sakit, dan marabahaya lainnya [10]
Cinta diri erat hubungannya dengan menjaga diri. Manusia
menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dengan berguna bagi dirinya. Gejala
yang menunjukkan kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri ialah kecintaan
yang luar biasa terhadap harta benda ( materi ). Cinta manusia terhadap benda
mandarah daging sebab manusia beranggapan, dengan harta benda ia dapat
merealisasikan semua keinginannya guna mencapai kesenangan dan kemewahan hidup.
Sebaliknya, cinta yang mulia pun dapat hilang apabila
sesorang terlalu berlebihan mencintai dirinya. Kecintaan terhadap dirinya dapat
di buktikan apabila ia tertimpa malapetaka atau kesulitan, manusia akan
berkeluh kesah sebaliknya, apabila manusia memperoleh banyak harta, ia akan
berhati – hati memelihatranya, bahkan dapat melupakan fungsi sosial hartanya,
cinta terhadap dirinyatidak harus di hilangkan, tetapi perlu berimbang dengan
cinta kepada orang lain untuk berbuat baik. inilah yang di maksud dengan cinta
diri yang ideal
Cinta
kepada sesama manusia
Allah memerintahkan kepada manusia untuk saling mencintai
di antara sesamanya.
“sesungguhnya orang orang mukmin bersaudara, karena itu
damaikanlah anatara kedua saudaramy dan kepada allah supaya kamu mendapat
rahmat” (QS.49:10)
Dalam al quran terdapat pujian bagi kaum anshar karena
ras cintanya kepada kaum muhajirin. Orang orang yang telah menempati kota
madinah dan telah beriman ( anshar ) sebelum kedatangan mereka ( muhajirin ),
mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh
keinginan dalam hati mereka terhadap apa apa yang di berikan kepada mereka (
orang muhajirin ) mereka mengutamakan ( orang orang muhajirin ) atas diri
mereka sendiri sekalipun mereka sendiri dalam kesusahan
“dan siapa yang di pelihara dari kekikiran dirinya,
mereka itulah orang orang yang beruntung” (QS.59:9).
Ciri cinta di anatara sesama manusia menurut ajaran isla
di tandai dengan sikap yang lebih mengutamakan ( mencintai ) orang lain
daripada dirinya sendiri. [11]
Cinta kepada sesama manusia, cinta kepada sesama manusia
banyak di lukiskan dan di contohkan oleh seorang pembawa kebenaran ( nabi )
atau oleh kelompok orang. Cinta kepada sesama manusia merupakan watak manusia
itu sendiri, selain watak manusia sebagai pembenci dan bersifat kikir terhadap
manusia lainnya, biasanya manusia akan mudah membenci atau kurang memperhatikan
orang lain apabila ia mendapat kesenangan dirinya. Akan tetapi, kita sering
mendengar tentang seseorang yang betul betul mendahulukan keperluan orang lain
( sesama manusia ) daripada keperluan dirinya sendiri. Kalau boleh berkomentar
tentang watak manusia dalam hal mencintai sesamanya, yang lebih baik tentu yang
mampu menyeimbangkan cinta mereka kepada diri sendiri dengan cinta mereka
kepada diri sendiri dengan cinta mereka kepada sesamanya, dan membatasi
ke-ekstreman cinta mereka.[12]
Semua pembicaraan tentang cinta kepada manusia itu akan
lebih peka pemahamannya apabila dapat di amati perilaku dan perlakuan seseorang
kepada orang lain. Perlakuan yang baik ( amaliah ) kepada sesama manusia bukan
dalam arti karena seseorang itu membela, menyetujui, mendukung atau berguna
bagi dirinya, melainkan datang dari hati nuraninya yang ikhlas ( murni ) di
sertai tujuan yang mulia.
Motivasi seseorang mencintai sesama manusia, menurut
persepsi sosiologi di sebabkan karena manusia itu tidak dapat hidup sendirian (
manusia sebagai makhluk sosial ). Manusia perseorangan ( individu ) memiliki
kelebihan dan kekurangan dalam segala hal sehingga manusia akan saling menutupi
kekurangannya apabila bekerja sama. Menurut persepsi agama islam mencintai
sesama manusia itu merupakan suatu kewajiban. Demikian pula adanya perbedaan
warna kulit , ras dan etnis atau perubahan fisik manusia, justru untuk saling
memperkenalkan diri ( saling mengenal ). Bahkan dalam batas suatu kepercayaan,
sesama manusia di anggap masih saudara ( saudara seiman ). Dalam pepatah sering
di katakan “ kalau tidak kenal maka tak sayang “, berarti kenal di sini untuk
di lanjutkan dengan saling menyayangi atau saling mencintai di antara manusia.
Adil
dan belas kasih ( cinta )
Sering orang berpendapat bahwa belas kasih atau cinta itu
di atas keadilan. Dengan pendapat tersebut mereka bermaksud bahwa perilaku yang
di gerakkan ( di motivasi ) oleh rasa keadilan. Pendapat tersebut dalam
kenyataanya dapat benar dan dapat pula salah. Suatu saat dapat saja belas kasih
( cinta ) tuntutannya adalah keadilan.[13]
Contoh peristiwa : seorang pencuri tertangkap sedang
melakukan pencurian, lalu ia minta maaf kepada orang banyak supaya di beri
belas kasoih, tidal di bawa kekantor polisi. Peristiwa ini di katakan “ belas
kasih di atas keadilan” , padahal hukuman kepada pencuri itu adalah hak warga
masyarakat.
Contoh peristiwa lainnya : seseorang yang di penajara
karena menentang hukum, akan di beri ampunan oleh presiden, maka di katakan “
belas kasih di atas rasa keadilan “ . pendapat demikian salah, sebab keadilan
dapat pula memastikan ia tidak di penjara. Maka dalam peristiwa ini belas kasih
dan keadilan sama tuntunannya. Dari uraiannya contoh di atas, pendapat “ belas kasih di atas keadilan “ itu benar
apabila yang memberi kasih itu di lakukan sedangkan keadilannya milik orang
lain, maka pendapat “ belas kasih di atas keadilan “ itu tidak benar
Pertemuan
dan cinta
Gabriel marcel, seorang filsuf kelahiran paris ( 1889 –
1973 ), mengemukakan hakikat pertemuan atau kehadiran dan cinta. Kodrat sosial
manusia atau hubungannya dengan orang lain, yang hanya berdasarkan kecenderungan
kecenderungan biologis dan psikologis manusia, tidak menghasilkan hidup bersama
yang sejati. Orang yang mengikuti kecenderungan kecendrungan itu mewujudkan
hubungan dengan orang lain atas taraf biologis san psikologis, tetapi belum
tentu mereka bertemu dengan orang lain sebagai pribadi, secara pesona. Dan
inilah yang menentukan arti kodrat sosial manusia yakni bahwa aku sebagai
pribadi bertemu orang lain sebagai pribadi. Maka hubungan antara orang di
anggapnya sebagai hubungan personalistis, “ kehadiran ini di realisasikan
secara istimewa dalam cinta. Di sini “aku” dan “engkau” mencapai taraf “ kita “ “aku” dan “engkau” di angkat menjadi
suatu kesatuan baru yang tidak mungkin di pisahkan ke dalam dua bagian.[14]
Pertemuan antara dua orang ialah anatara “ aku” dan
“engkau” yang saling mebuka hati melalui gerak dan kata. Dalam pertemuan
terjadi saling membuka hati , saling menyerahkan diri , terbuka dan jujur.
Dalam pertemuan pikiran-pikiran egoistis di lepaskan, sebaliknya di bangkitkan
kesediaan dalam situasi bersama. Hubungan “aku” dengan “engkau” adalah hubungan
dinamis, berkembang yang di mulai dengan kepercayaan sampai lebih nyata dalam
cinta dan persahabatan
Hubungan antara dua orang memuncak dalam hubungan cinta
itu adalah anugerah tuhan. Syarat cinta ialah kerendahan hati pada orang yang
memanggil, kesediaan pada orang yang di panggil, dalam cinta unsur
individualitas maish tetap ada, hanya di tutupi dengan berbagai pengorbanan,
tetapi demi cinta pila. Cinta tidak dapat di ukur secara objektif. Bahkan sulit
sekali untuk mengetahui apakah saya sendiri mencintai seorang lain atau tidal
karena kita mencakup seluruh eksistensi manusia.
Dalam cinta timbul communion,
kebersamaan yang sungguh-sungguh komunikatif, “ mencintai “ selalu mengandung
suatu imbauan ( invocation ) kepada sesama. Kebersamaan dalam cinta ini,
menurut kodratnya, harus berlangsung terus, tidak terbatas pada satu saat juga.
Karena itu, dalam pengalaman cinta terkandung juga bahwa “aku” mengikat diri
dan tetap setia. Kesetiaan itu sanggup membaharui dan memperkokoh cinta.
Akan tetapi, suatu saat cinta dapat putus secara mendadak
karena adanya pengkhianatan terhadap partner dalam cinta. Bila yang di cintai
tidak cocok dengan gambaran semula tentang dia, ia tetap dapat di cintai. Tetapi
pada suatu saat mungkin ia mengakui : aku ditipu. Ini hanya mebuktikan bahwa
dalam cinta, tetap ada kemungkinan untuk memandang adanya pelaku ketiga. Ini
merupakan kritik dan kewaspadaan terhadap cinta. Untuk lebih waspada, perlu di
kaji konsep cinta dalam ajaran agama.
Rasa
kasihan, cinta, dan persahabatan
Tak ada seorang pun yang mau hidup tanpa sahabat. Dan
yang mebuat kita bermoral adalah adanya perhatian kita secara pribadi terhadap
orang-orang yang paling dekat dengan kita. Baru setelah itu, kita memberi
perhaian kepada banyak orang yang belum pernah kita temui, dan kepada manusia
pada umumnya. Persahabatan di jalin dalam bentuk pengalaman, mungkin karena
kesamaan tujuan, profesi, dan sebagainya. Inti persahabatan ialah adanya
kesediaan untuk saling berkorba, bukan dalam konteks materi, melainkan lebih
dari itu, berupa nilai nilai rasa kemanusiaan dan seterusnya. Persahabatan juga
dapat terjalin karena berada dalam situasi yang sama, atau jalan pikiran yang
sama dalan menghadapai suatu kehidupan. Persahabatan pun juga dapat merenggang
karena adanya perbedaan dalam berbagi segi ( segi yang merintis persahabatan )
bahkan samapai pada taraf konflik kalau perbedaan segi-segi tersebut sangat
tajam.
[15]
Perasaan kasih secara harfiah berarti “ masa depan “. Dalam
pengertian ini, perasaan perasaan sosial kita yang paling mendasar, dasar
seluruh moralitas dan merupakan perekat emosional yang menghimpun masyarakat
dan akhirnya seluruh kemanusiaan bersama sama. Adanya rasa kasihan yang di
tanamkan dalam akhlak, mebantu seorang menjadi pemurah. Sebab sering terdapat
di kotomi antara tuntunan moralitas dengan watak egois.
Rasa kasihan adalah seperti emosi, mempunyai kekuatan
untuk mendorong kita. Sering kita bertindak memberikan bantuan kepada orang,
bukan karena dorongan hati atau merasa kasihan, sebelum kita mengerti apa
permasalahannya. Tetapi perlu di ingat bahwa rasa kasihan selalu menyangkut
kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Walaupun ada istilah “ kasihan dir “
umumnya orang tidak dapat berbicara tentang mengasihi diri sendiri.
Rasa kasihan tidak hanya sekadar perekat yang menghimpun
orang bersama sama melalui perhatian timbal balik. Rasa kasihan merupakan
hubungan konseptual anatara persoalan persoalan pribadi seseorang yang paling
spontan dan tuntutan tuntutan moralitas yang di arahkan oleh orang lain.
Rasa kasihan merupakan sentimen yang kita rasakan
terhadap orang lain ataupun kepada binatang. Sentimen dalam hal ini adalah
suatu emosi yang abstrak. Sentimen ini tidak membeda bedakan orang yang kita kenal
dengan baik dan orang yang tidak kenal. Tetapi , rasa kasihan ini juga dapat
merupakan bibit dari apa yang di namakan cinta.
Rasa kasihan yang lebih intim dan di tunjang oleh
berbagai emosi di kelompokkan kedalam pola hubungan cinta. Cinta ini pengertiannya
khusus sekali, bahkan sifatnya ekslusif. Seseorang dapat saja bersahabat,
tetapi sahabat sejati sedikit sekali jumlahnya, terbatas hanya untuk sekelompok
kecil orang yang terpilih yang paling di kenal dan yang paling di perhatikan.
Cinta malah lebih khusus lagi, kerap terbatas pada anggota keluarga sendiri
atau pada kelompok intim. Dan cinta “romantis” dalah emosi yang terbatas pada
seseorang dan hanya pada satu orang, seperti misalnya lembaga perkawinan.
Tetapi, ada bermacam macam cinta ( bukan
dalam arti romantis ) yang berlaku bagi siapa saja, di mana saja tanpa kecuali
( cinta kristiani ). Dalam islam di katakan : “sesungguhnya seluruh orang mukmin itu bersaudara”( QS.49:10 )
dalam ajaran agama islam, mengasihani dan mencintai lebih di tekankan dalam
konteks theologi, dan gambaran mengasihani dan mencintainya dengan gambaran
“saudara” ( pertalian keluarga ) meskipun dalam bentuk praktek di tujukan
kepada orang yang tidak ada pertalian darah.
Cinta sebagai satu satunya dasar hidup manusia sejak lama
dan berabad, telah menjadi fokus perhatian manusia. Dalam berbagai aspek
kehidupan seperti nyanyian dan seterusnya, cinta selalu di jadikan “segala
galanya” meskipun dalam praktek sering
kita melihat perbuatan perbuatan yang jauh dan bertolak belakang dengan simbol
simbol cinta, seperti perang, sadisme dan sebagainya. Maka kita bertanya, kapan
tegaknya cinta di dunia ini ?
Cinta
menurut ajaran agama
Ada yang berpendapat bahwa etika cinta dapat di pahami
dengan mudah tanpa di kaitkan dengan agama. Tetapi dalam kenyataan hidup,
manusia masih medambakan tegaknya cinta dalam kehidupa ini. Di satu pihak cinta
di dengung dengukan lewat lagu dan organisasi perdamaian dunia, tetapi di lain
pihak, dalam praktek kehidupan, cinta sebagai dasar hidup jauh dari kenyataan.
Atas dasar ini, agama memberikan ajaran cinta kepada manusia. Tidak kurang
seorang nabi yang bernama ibrahim mendapat kritik tentang cinta. Suatu saat
ibrahim mendambakan seorang anak. Setalah lahir anak yang di cintainya ( ismail
), ternyata cinta ibrahim kepada anaknya dapat menggeser cintanya kepada
penciptanya sendiri sehingga tuhan mencobanya dengan menyuruh ibrahim
menyembelih anaknya. Perintah ini menumbuhkan konflik dalam diri ibrahim apa
yanh harus di cintai, tuhan atau anaknya.[16]
Cuplikan peristiwa ini meberikan indikasi kepada kita
bahwa cinta itu harus proporsional dan adil, jangan lupa diri karena cinta.
Untuk itu agama memberikan tuntunan tentang cinta. Berbagai bentuk cinta ini
terdapat di al quran
Cinta
seksual
Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual. Hal ini di
lukiskan dalam al quran sebagai berikut :
“Dan di antara tanda tanda kekuasaanya ialah dia
menciptakan untukmu istri istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan
merasa tentram kepadanya, dan di jadikanya di antaramu rasa kasih sayang
sesungguhnya pada yang demikian itu benar benar terdapat tanda tanda bagi kamu
yangberpikir” (QS.3:14).
Cinta seksual merupakan bagian dari kebutuhan manusia
yang dapat melestarkan kasih sayang, keserasian, dan kerja sama anatara suami dan
istri. Seks merupakan faktor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga.[17]
Cinta
kebapakan
Cinta ibu kepada anaknya,atau dorongan keibuan, merupakan
dorongan fisiologis.artinya terjadi perubahan perubahan fisiologis dn fisis
yang terjadi pada diri si ibu sewaktu mengandung, melahirkan, dan menyusui.
Dengan kebapakan tidak seperti dorongan keibuan, tetapi dorongan psikis. Hal
ini tampak dalam cinta bapak kepada anaknya karena ia merupakan sumber
kesenangan dalam kegembiraan baginya, sumber kekuatan dan kebanggan, dan
merupakan faktor penting bagi kelangsungan peran bapakdalam kehidupan, dan
tetap tetaap terkenangnya dia setelah meninggal dunia. Hal ini tampak jelas
pada cinta nabi yaqub a.s kepada putranya yusufa.s yang membangkitkan cemburu
adiknya dan cengki saudara saudaranya yang lain.
“.....sesungguhnya yusuf dan saudara kandungnya (
bunyamin ) lebih di cintai oleh ayah kita daripada kita sendir,padahal kita ini
adalah satu golongan ( yang kuat )....” (QS.12:8 ).
Cinta Kepada Allah
Puncak
cinta manusia yang paling bening, jernih, dan spiritual adalah cintanya kepada
Allah.
“ya tuhanku, sesungguhnya anaku termasuk keluargaku, dan
sesungguhnya janji engkau itulah yang benar. Dan engkau adalah hakim yang
seadil adilnya....” 9 (QS.3:31).
Cinta seorang mukmin kepada allah melebihi cintanya
kepada segala yang seuatu yabg ada di dalam kehidupan ini, melebihi cintanya
kepada dirinya sendiri, anak anaknya, istrinya , kedua orang tuanya,
keluarganya dan hartanya.
“katakanlah : jika bapak bapak, anak anak saudara saudara
istri istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakann, perniagaan
yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah rumah tempat tinggal yang kamu
sukai, lebih kamu cintai dari allah dan rasulnya dan dari berjihad di jalannya
maka tunggulah sampai allah mendatangkan keputusannya dan allah tidak memberi
petunjuk kepada orangg orang yang fasik (QS.9:24)
Cinta yan ikhlas seorang manusia kepada allah akan
merupakan pendorong dan mengarahkannya kepada penundukan semua bentu kecintaan
lainnya. Cinta kepada allah akan membuat seseorang menjadi mencintai sesama
manusia , hewan, semua makhluk allah, dan seluruh alam semesta. Hal ini terjadi
karena semua yang wujud di pandang sebagai manifestasi tuhannya, sebagai sumber
kerinduan spiritualnya dan harapan kalbunya.[18]
Cinta
kepada rasul ( muhammad )
Cinta kepada rasul muhammad merupakan peringkat
kedua setelah cinta kepada allah. Hal
ini di sebabkan karena rasul muhammad bagi kaum muslimin merupakan contoh ideal
yang sempurna bagi manusia, baik dalam tingkah laku, moral , maupun berbagai
sifat luhur lainnya.
“dan sesungguhnya kamu benar benar berbudi pekerti yang
agung” (QS.68:4)
Cinta kepada rasul
muhammad ialah karena beliau merupakan suri tauladan, mengajarkan al quaran dan
kebijaksanaan. Muhammad telah menanggung derita dan berjuang dengan penuh
tantangan sampai tegaknya agama islam.
Cinta
kepada ibu bapak
Cinta kepada ibu bapak dalam ajaran agama islam sangat
mendasar, menentukan ridha tidaknya tuhan kepada manusia. Sabda nabi muhamad
saw.
“keridhoan allah bergantung pada keridhoan kedua orang
tua, dan kemurkaan alah bergantung pada kemurkaan kedua orang tua pula” (
haidts riwayat at turmudzy )
Khusus mengenai cinta kepada orang tua ini, tuhan
memperingatkan dengan keras melalui ajaran akhlak mulia dan langsung dengan
tata kramanya.
“dan tuhanmu telah memerintahkan suapaya kamu jangan
menyembah selain dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan
sebaik baiknya , jika salah seorang di antara keduanya atau kedua duanya sampai
berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali kai janganlah kamu mebentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan
ucapkanlah : wahai tuhanku, kasihanilah mereka keudanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil
(QS.17:23-24) [19]
Seluruh uraian tentang konsep cinta menurut ajaran agama
islam meberikan kejelasan kepada kitabahwa makna cinta menurut ajaran agama
berbeda dengan makna cinta menurut kajian filsafat. Konsep cinta menurut ajaran
agama sifatnya lebih realistis dan operatif , sedangkan dalam konsep filsafat
gambarannya bersifat abstrak. Dalam agama , cinta adalah suatu dinamisme aktif
yang berakar dalam kesanggupan kita untuk memberi cinta dan menghendaki
perkembangan dan kebahagiaan orang yang di cintai. Apabila ada orang egois tak
dapat mencintai orang laim, sesungguhnya ia sendiri tidak dapat mencintai
dirinya sendiri.karenanya, kosnep cinta dalam ajaran agama islam di rinci cinta
bersifat menyeluruh dan eksistensial. Oleh karena itu, akan lebih baik apabila
wawasan pemahaman ini di padukan dalam pola pikir dan pola tindak seseorang
guna mencapai segi kemanusiaan dan aspek theologisnya cinta.
MANUSIA DAN PENDERITAAN
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai manusia
mempunyai pikiran dan perasaan yang kadang menjadikan rasa tidak nyaman, rasa sakit,
dan merasa tersiksa. Hal tersebut tentu tidak diinginkan, dan sengaja atau
tidak seorang manusia melakukannya pastinya ingin mencapai hidup yang jauh dari
penderitaan seperti itu.
Penderitaan berasal dari kata derita, derita berasal
dari bahasa sansekerta, dhra yang
berarti menahan atau menanggung. Menurut Kamu Besar Bahasa Indonesia, derita
artinya menanngung (merasakan) sesuatu yang tidak menyenangkan. Dengan demikian
penderitaan merupakan lawan kata dari kesenangan atau kegembiraan.[20]
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita
berasal dari bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita
artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Sedangkan
menurut kamus besar Bahasa indonesia derita artinya menanggung (merasakan)
sesuatu yang tidak menyenangkan. Dengan demikian penderitaan merupakan lawan
kata dari kesenangan ataupun kegembiraan.[21]
Penderitaan mempunyai kata dasar derita yang berasal
dari kata dhra (Bahasa Sansekerta), yang berarti menahan atau menanggung. Penderitaan
adalah beban phisik atau jiwa manusia yang dapat menekan diri manusia. Pendapat
Franklien J. Meine menyatakan bahwa penderitaan (Suffering) adalah keadaan yang
berhubungan dengan rasa sakit, tak menyenangkan hati, menderita rugi, dan suka
menderita. Penderitaan didalamnya mengandung rasa sakit, siksaan dan neraka.[22]
Kata penderitaan berasal dari kata “derita” (dhra dalam bahasa Sansekerta), artinya
menahan atau menanggung sesuatu yang tidak menyenangkan, baik itu secara lahir
maupun batin. Penderitaan tidak pernah dipisahkan dari kehidupan manusia, yang
berupa keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan, dan
lain-lain.[23]
Penderitaan juga bisa berarti sesuatu yang tidak
diinginkan untuk terjadi. Penderitaan dapat berupa penderitaan lahir, batin
atau gabungan dari keduanya. Suatu pristiwa yang dianggap penderitaan oleh
seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu
penderitaan merupakan energi untuk bangkit kembali bagi seseorang, atau sebagai
langkah awal untuk mencpai kenikmatan dan kebahagiaan.[24]
Berbagai macam kasus penderitaan sesuai dengan
lika-liku kehidupan manusia. Selanjutnya bagaimana manusia dalam menghadapi
penderitaan hidupnya. Penderitaan fisik yang dialami manusia dapat diatasi
dengan cara medis, sedangkan penderitan psikis, cara penyembuhannya adalah
bagaimana kemampuan si penderita dalam menyelesaikan soal-soal psikis yang
dihadapinya.[25]
Menurut agama penderitaan itu adalah teguran
dari tuhan. Penderitaan ada yang ringan dan berat contoh penderitaan yang
ringan adalah ketika seseorang mengalami kegagalan dalam menggapai
keinginannya. Sedangkan contoh dari penderitaan berat adalah ketika seorang
manusia mengalami kejadian pahit dalam hidupnya hingga ia merasa tertekan
jiwanya sampai terkadang Ingin mengakhiri hidupnya.
Penderitaan adalah termasuk
realitas manusia di dunia. Namun peranan individu juga menentukan
berat-tidaknya intensitas penderitaan.Suatu pristiwa yang dianggap
penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain.
Penderitaan adalah bagian dari kehidupan.
Dalam kitab suci Agama manapun terdapat banyak surat
dan ayat yang menguraikan adanya penderitaan yang dialami oleh manusia. Hal
tersebut berisi tentang peringatan bagi manusia akan adanya penderitaan.
Seperti daalam Qur’an Surat Al-Balad, ayat 4, كَبَدٍ فِى ٱلْإِنسَٰنَ خَلَقْنَا لَقَدْ
yang artinya: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah
payah.” Dengan seruan itu menandakan bahwa manusia sebagai makhluk hidup,
hidupnya penuh dengan perjuangan. Ia harus dapat bekerja keras untuk
kelangsungan hidupnya. Ia harus mampu menaklukan alam, menghadapi masyarakat
sekelilingnya dan tidak boleh lupa untuk bertaqwa kepada Tuhan. Apabila manusia
melalaikan salah satu dari padanya, atau kurang sungguh-sungguh menghadapinya,
akibatnya manusia akan menderita. Penderitaan ini bisa jadi kapan saja dan
kepada siapa saja. Penderitaan dating tidak pandang bulu. Untuk itulah, manusia
agar bekerja keras agar terlepas dari penderitaan. Berbagai kasus penderitaan
dalam kehidupan manusia sering dijadikan salah satu gagasan atau tema karya
filsafat dalam bentuk karya seni, misalnya: Epos
Ramayana, Mahabarata, Romeo dan
Yuliet, Laila Majnun, Roro Mendud, dan sebagainya.[26]
Sumber penderitaan yang dialami oleh manusia
terdapat banyak dimensi yang semua dimensi merupakan satu kesatuan utuh. Ini
menurut pandangan monopruralisme, yang memandang manusia mempunyai banyak aspek
sebagai satu kesatuan yang monodualis. Manusia mempunyai dimensi-dimensi
kebendaan (alam), individu, sosial, jiwa, tuhan, dan sebagainya.
Derita secara umum juga mempunyai arti menanggung
atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat berupa
penderitaan lahir atau batin atau lahir dan batin. Penderitaan termasuk
realitas manusia dan dunia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang
berat, ada yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat-tidaknya
intensitas penderitaan. Suatu pristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang
belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan
merupakan energi untuk bangkit kembali bagi seseorang, atau sebagai langkah
awal untuk mencpai kenikmatan dan kebahagiaan.
Dimensi-dimensi tersebut menimbulkan berbagai
kebutuhan manusia, untuk memenuhi berbagai dimensinya ini dapat ditujukan semakin manusia mengetahui
hakikatnya dari manusia semakin banyak jenis-jenis kebutuhannya. Seperti
Abraham Maslow memerinci kebutuhan manusia kedalam delapan macam secara bertingkat.
Agar mempermudah untuk memahami hubungan dimensi
manusia dan kebutuhan manusia, disini disederhanakan berbagai dimensi dan
kebutuhan itu hanya dibedakan atas aspek kejasmanian (phisik), kejiwaan
(psikis), dan sosial.
Sehingga kebutuhan manusia cukup dibedakan antara
kebutuhan phisik, psikis, dan sosial.
- Kebutuhan phisik (Basic Needs)
meliputi makan, minum, bernapas, pakaian, tempat tinggal, seks, kesehatan
dan sebagainya.
- Kebutuhan psikis (psichologyzal
needs) meliputi, keindahan,kenikmatan, moral, ilmu pengetahuan, religious,
dan sebagainya.
- Kebutuhan sosial (social needs)
meliputi pergaulan, kekeluargaan, persahabatan, berkelompok,
berkomunikasi, dan sebagainya.
Menurut Abraham Moslow bahwa manusia mempunyai
dorongan (motivasi) yang paling mendasar yaitu dorongan untuk memenuhi kebutuhan
phisik, baru kemudian secara bertingkat tumbuh dorongan untuk memenuhi
kebutuhan lainnya yang lebih tinggi. Kadang kala antara keinginan pemenuhan
kebutuhan tidak sesuai dengan kemampuan dirinya dan faktor pendukung luar.[27]
Penderitaan yang dapat dialami manusia ada yang
berat dan ada yang ringan. Dalam setiap penderitaan ada yang dapat diambil
pelajarannya dan adapula yang tidak bisa menjadikan penderitaan tersebut
sebagai pelajaran yang bisa menyebabkan kegelapan dalam hidupnya. Jadi, belum
tentu penderitaan itu tidak bermanfaat. Tergantung pada manusianya apakah bisa
menjadikan pelajaran atau sebaliknya.
Adapun contoh yang dapat memberikan hikmah /
pelajaran dari penderitaan yang dialami oleh tokoh-tokoh filsafat eksistensialisme. Seperti Kierkegaard
(1813-1855), seorang filsuf Denmark, sebelum menjadi seorang filsuf besar, masa
kecilnya penuh dengan penderitaan. Penderitaan yang menimpanya, selain
melankoli karena ayahnya pernah mengutuk tuhan dan berbuat dosa melakukan
hubungan badan sebelum menikah dengan ibunya, juga kematian delapan anggota
keluarganya, termasuk ibunya, selama dua tahun berturut-turut. Peristiwa ini
menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi Soren Kiergaard, dan ia menafsirkan
peristiwa ini sebagai kutukan Tuhan akibat ayahnya. Keadaan demikian sebelum
kiergaard muncul sebagai filsuf, menyebabkan dia mencari jalan membebaskan diri
(kompensasi) dari cengkraman derita dengan jalan mabuk-mabukan. Karena derita
yang tak kunjung padam, kiergaard mencoba mencari “hubungan” dengan tuhannya,
bersamaan dengan keterbukaan hati ayahnya dari melankoli. Akhirnya ia menemukan
dirinya sebagai filsuf eksistensial yang besar.
Penderitaan Nietzche (1844-1900), seorang filsuf
Prusia, dimulai sejak kecil, ia sering sakit, lemah, serta kematian ayahnya
ketika ia masih kecil. Keadaan ini menyebabkan ia suka sendiri, membaca dan
merenung diantara kesunyian sehingga ia menjadi fisuf besar.
Lagi lagi dengan filsuf Rusia Berdijev (1874-1948).
Sebelum ia menjadi filsuf, ibunya sakit-sakitan. Ia menjadi filsuf juga akibat
menyaksikan masyarakat yang sangat menderita dan mengalami ketidakadilan.
Sama halnya dengan filsuf Sartre (1905-1980) yang
lahir di Paris, Perancis. Sejak kecil fisiknya lemah, sensitive, sehingga ia
menjadi cemoohan teman-teman sekolahnya. Penderitaanlah yang menyebabkan ia
belajar keras sehingga menjadi filsuf besar.
Masih banyak contoh lainnya yang menunjukkan bahwa
penderitaan tidak selamanya berpengaruh negative dan merugikan, tetapi dapat
merupakan energi pendorong untuk menciptakan manusia-manusia besar.
Contoh lain ialah penderitaan yang menimpa pemimpin
besar umat Islam, yang terjadi pada diri Nabi Muhammad. Ayahnya wafat sejak
Muhammad dua bulan dalam kandungan ibunya. Kemudian, pada usia enam tahun,
ibunya wafat. Dari peristiwa ini dapat dibayangkan penderitaan yang menimpa
Muhammad sekaligus menjadi saksi sejarah sebelum menjadi pemimpin yang paling
berhasil memimpin umatnya (versi Michael Hart dalam Seratus Tokoh Besar Dunia).[28]
Penderitaan merupakan realitas manusia di dunia.
Namun, peranan individu juga menentukan berat tidaknya intensitas penderitaan.
Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan
penderitaan bagi orang lain. Penderitaan adalah bagian dari kehidupan. Penyebab
munculnya penderitaan:
1. Penderitaan
yang muncul karena perbuatan buruk manusia.
Penderitaan
muncul disebabkan hubungan antar manusia dengan lingkungan sekitarnya, baik
dengan antar sesama manusia ataupun dengan alam. Penderitaan ini dapat muncul
karena ketidakharmonisan antara elemen satu dengan yang lainnya. Contohnya pada
hubunga bermasyarakat, adakalanya di dalam bermasyarakat terdapat perbedaan
pendapat yang menimbulkan perselisihan diantara satu dengan yang lainnya. Hal
ini bisa saja mengakibatkan timbulnya rasa dengki, marah, bahkan saling menuduh,
atau menjelek-jelekkan. Dari sinilah penderitaan muncul karena perbuatan saling
tidak menyukai tersebut.
Dalam
hal ini, penderitaan yang dialami adalah penderitaan secara batin karena
terdapat rasa sakit hati apabila ada seseorang yang menjelek-jelekkan bahkan
rasa itu bisa saja semakin sakit apabila sudah terjadi pertengkaran yang
membuat hubungan di dalam masyarakat sudah tidak ada rasa nyaman dan aman.
Selain karena ketidakharmonisan dengan sesame, ketidakharmonisan dengan alam
juga dapat membawa penderitaan. Contohnya apa yang sedang terjadi saat ini,
yaitu bencana alam terjadi dimana-mana. Karena kesalahan manusia terhadap alam
lah yang membuat alam menjadi tidak bersahabat lagi dengan manusia, maka muncul
lah penderitaan pada setiap orang yang terkena bencana alam. Penderitaan yang
dialami adalah penderitaan secara fisik dan batin, karena mereka yang terkena
bencana alam harus rela kehilangan harta benda bahkan keluarga mereka. [29]
2. Penderitaan
yang muncul karena suatu penyakit atau siksaan.
Penderitaaan
manusia dapat juga terjadi akibat penyakit atau siksaan. Penderitaan ini baik
penyakit jasmani maupun penyakit jiwa, misalnya penyakit kudis, lepra, sakit
hati, penyakit ganas lainnya. Namun kesabaran, tawakkal, dan optimisme
merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan itu. Banyak contoh kasus
penderitaan semacam yang dialami manusia. Beberapa kasus penderitaan dapat
dapat diungkap sebagai berikut ini: seorang anak lelaki buta sejak dilahirkan.
Diasuh dengan tabah oleh orang tuanya. Ia disekolahkan, kecerdasannya luar
biasa. Walaupun ia tidak dapat melihat, dengan mata hatinya terang benderang.
Karena kecerdasannya ia memperoleh pendidikan sampai di Universitas dan
akhirnya mendapat gelar doktor di Universitas Sourbone Prancis. Dia adalah
Prof. Dr. Thaha Husen, guru besar Universitas di Kairo, Mesir.[30]
Penderitaan
akibat siksaan, Penderitaan ini merupakan siksaan dari tuhan pada diri manusia
karna dosa-dosa manusia. Misalnya tenggelamnya raja fir’aun, derita nabi ayyub,
bencana alam.
MANUSIA DAN KEADILAN
Dalam
hidup dan kehidupan, setiap manusia dalam melakukan aktifitasnya pasti pernah
menemukan perlakuan yang tidak adil atau bahkan sebaliknya, melakukan hal yang
tidak adil. Dimana pada setiap diri manusia pasti terdapat dorongan atau
keinginan untuk berbuat kebaikan “jujur”. Tetapi terkadang untuk melakukan
kejujuran sangatlah tidak mudah dan selalu dibenturkan oleh permasalahan –
permasalahan dan kendala yang dihadapinya yang kesemuanya disebabkan oleh
berbagai sebab, seperti keadaan atau situasi, permasalahan teknis hingga bahkan
sikap moral.
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata adil berarti tidak berat sebelah atau tidak
memihak, atau tidak sewenang-wenang, sehingga keadilan mengandung pengertian
sebagai suatu hal yang tidak berat sebelah atau tidak memihak, atau tidak
sewenang-wenang.
Dampak
positif dari keadilan itu sendiri dapat membuahkan kreatifitas dan seni tingkat
tinggi. Karena ketika seseorang mendapat perlakuan yang tidak adil maka orang
tersebut akan mencoba untuk bertanya atau melakukan perlawanan “protes” dengan
caranya sendiri. Cara itulah yang dapat
menimbulkan kreatifitas dan seni tingkat tinggi seperti demonstrasi, melukis,
menulis dalam bentuk apabun hingga bahkan membalasnya dengan berdusta dan
melakukan kecurangan. Keadilan adalah pengakuan atas perbuatan yang seimbang,
pengakuan secara kata dan sikap antara hak dan kewajiban. Setiap diri kita
“manusia” memiliki itu “hak dan kewajiban”, dimana hak yang dituntut haruslah
seimbang dengan kewajiban yang telah dilakukan sehingga terjalin harmonisasi
dalam perwujudan keadilan itu sendiri.
Keadilan
pada dasarnya merupakan sebuah kebutuhan mutlak bagi setiap manusia dibumi ini
dan tidak akan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan. Menurut Aristoteles,
keadilan akan dapat terwujud jika hal – hal yang sama diperlakukan secara sama
dan sebaliknya, hal – hal yang tidak semestinya diperlakukan tidak semestinya
pula. Dimana keadilan memiliki ciri antara lain ; tidak memihak, seimbang dan
melihat segalanya sesuai dengan proporsinya baik secara hak dan kewajiban dan
sebanding dengan moralitas. Arti moralitas disini adalah sama antara perbuatan
yang dilakukan dan ganjaran yang diterimanya. Dengan kata lain keadilan itu
sendiri dapat bersifat hukum.
Keadilan
itu sendiri memiliki sifat yang bersebrangan dengan dusta atau kecurangan.
Dimana kecurangan sangat identik dengan perbuatan yang tidak baik dan tidak
jujur. Atau dengan kata lain apa yang dikatakan tidak sama dengan apa yang
dilakukan.
Setiap kehidupan manusia dalam melakukan
aktivitas nya pasti pernah mengalami perlakuan yang tidak adil. Jarang sekali
kita mengalami perlakuan yg adil dari setiap aktivitas yang kita lakukan.
Dimana setiap diri manusia pasti terdapat suatu dorongan atau keinginan untuk
berbuat jujur namun terkadang untuk melakukan kejujuran itu sangatlah sulit dan
banyak kendala nya yang harus di hadapi, seperti keadaan atau situasi,
permasalahan teknis hingga bahkan sikap moral.
Pengertian
keadilan menurut beberapa tokoh yaitu:
a.
Keadilan menurut aristoteles adalah
kelayakan dalam tindakan manusia, Kelayakan diartikan sebagai titik tengah
diantara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit.
Kedua ujung tersebut menyangkut dua orang atau benda. Dan kedua orang
tersebut atau kedua benda tersebut harus mepunyai porsi atau ukuran yang
sama itu yang dinamakan adil dan jika tidak seukuran itu namanya ketidal
adilan. Arti mudahnya keadilan adalah tidah berat sebelah atau bisa di sebut
dengan sama.
b.
Menurut Plato, keadilan merupakan
proyeksi pada diri manusia sehingga orang yang dikatakan adil adalah orang yang
mengendalika diri dan perasaanya dikendalikan oleh akal.
c.
Menurut
secorates, keadilan merupakan proyeksi pada pemerintah karena pemerintah adalah
pemimpin pokok yang menentukan dinamika masyarakat. Keadilan tercipta bilamana
warga negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan tugasnya
dengan baik.
d.
Kong Hu Cu Keadilan
terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai
raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya. Pendapat ini terbatas pada
nilai-nilai tertentu yang sudah diyakini atau disepakati.
Dari beberapa pendapat terbentuklah pendapat yg umum, yg di katakan ” Keadilan itu adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.”.
Dari beberapa pendapat terbentuklah pendapat yg umum, yg di katakan ” Keadilan itu adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.”.
e.
Charles E. Merriam
dalam bukunya
Systematic Politics menghubungkan dengan tujuan Negara. Menurut Meriam,
“Keadilan terwujud dalam system dimana terhadap saling pengertian dan
prosedur-prosedur yang memberikan kepada setiap orang apa yang telah disetujui
dan telah dianggap patut. Dari keadilan tersebut Meriam mengumpamakan adanya
system nilai dalam hubungan individu didalam masyarakat agar individu setiap
individu/setiap orang memperoleh bagiannya berdasarkan nilai-nilai tersebut.
Karena system nilai itu dipakai dalam kehidupan bernegara, maka keadilan
sebagai nilai sering tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Untuk itulah
dibentuklah penjaga keamannan dan ketertiban Negara., seperti : kepolisian,
militer, dan badan-badan peradilan/kehakiman-badan penegak hukum.
f.
Prof. I. R. Poedjowojoto
Secara umum menurut
Prof. I.R. Poedjowojoto, “Keadilan adalah pengakuan dan perlakuan terhadap
haknya.
g.
Keadilan menurut ajaran agama
Agama mempunyai
ajaran-ajaran tentang keadilan. Pelanggaran terhadap salah satu atau sebagian
besar terhadap larangan-larangan agama akan berakibat dosa, misalnya korupsi,
menumpuk kekayaan yang sebenarnya hasil pengambilan tidak sah dari milik orang
lain (terutama dari mereka yang lemah dan tidak tahu haknya). Pengadilan
terhadap doa itu dilaksanakan di akhirat nanti. Namun bagi umat beragama dosa
tersebut dirasakan sebagai hukuman pengadilan sanksi hukuman pengadilan di
dunia. (contoh : sinetron TV berjudul “markamah”).
h.
Keadilan dan hasil seni
Jelaskan bagi kita
bahwa keadilan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Itulah sebabnya
maka peristiwa-peristiwa keadilan dapat menimbulkan daya kreativitas para
seniman untuk menciptakan karya seni, sehingga banyak kita jumpai hasil-hasil
seni yang mengekspresikan keadilan.Peristiwa keadilan juga sering kita lihat,
kita dengar atu kita baca dari masa seperti :
1.
Mayat terpotong-potong di Jakarta dan
Sukabumi
2.
Pristiwa Sengkon dan Karta
3. Proses
pengadilan penyelundup kelas kakap Atau kemukakan contoh-contoh peristiwa yang
baru terjadi.[31]
Berbagai Macam Keadilan
1.
Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato
berpendapat bahwa dan hukum merupakan substansi rohani umum dan masyarakat yang
membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan
pekerjaan yang menurut sifat dasarnya paling cocok baginya. Pendapat Plato itu
disebut keadilan moral, sedangkan sunoto menyembunyikan keadilan legal.
Keadilan
timbul kerena penyatuan dan penyesuaian untuk memberi tempat yang selaras
kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat. Keadilan terwujud dalam
masyarakat bilamana setiap anggota melakukan fungsinya secara baik menurut
kemampuannya. Fungsi penguasa ialah membagi-bagikan fungsi-fungsi dalam negara
kepada masing-masing orang sesuai dengan asas keserasian itu. Setiap orang
tidak mencampuri tugas dan urusan yang
tidak cocok baginya. Keadilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap pihak
lain yang melaksanakan tugas-tugas yang selaras sebab hal itu akan menciptakan
pertentangan dan ketidakserasian.
2.
Keadilan Distributif
Aristoteles
berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama
diperlukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama.
Dalam
negara, pejabat pemerintah harus bersikap dan bertindak adik tanpa pandang
bulu. Bila hal ini dilaksanakan sebaik-baiknya sesuai dengan ciri-ciri adil
yaitu tidak memihak, sama hak, bersifat hukum, sah menurut hukum, layak, wajr
dan benar secara moral, maka tidak akan ada kericuhan baik didalam sidang
pengadilan maupun di instansi mana saja.
3.
Keadilan Komulatif
Keadilan
ini bertujuan mememlihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum,. Bagi
Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban
dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung eksterm menjadikan
ketidakadilan dan akan meriusak atau bahkan menghacurkan pertalian dan
masyarakat.
4.
Keadilan Sebagi Kebutuhan Naluri
Masyarakat
John
Locke mengemukakan bahwa manusia itu mempunyai hak-hak alamiah yang dimilikinya
semenjak lahir. Hak alamiah ini :
a.
Hak akan hidup
b.
Hak akan kebebasab atau kemerdekaan
c.
Hak akan memiliki sesuatu.
Diantara ketiga hak
alamiah itu yang terpenting adalah hak akan hidup. Dari hak akan hidup itulah
kemudian muncul hak-hak yang lain, yang saat ini dinamakan hak azasi manusia.
Masalah keadilan selalu membicarakan sejauh mana individu itu mendapatkan
hak-haknya sesuai dengan kewajiban yang telah dipenuhinya.
Hak-hak yang
timbul dengan adanya hak-hak azasi itu antara lain:
a. Personel
Right (hak azasi pribadi)
b. Property
Right (hak azasi ekonomi, hak memiliki sesuatu, hak membeli/menjual
barang-barang miliknya)
c. Rights
of legal equality (hak untuk memperoleh perlakuan yang sama dalam hukum dan
pemerintah.
d. Political
Rights (hak azasi politik, hak untuk ikut serta dalam pemerintahan, hak dipilih
dan memilih)
e. Social
anf Culture Rights (hak untuk memilih bjenis dan jenjang pendidikan serta
mengembangkan kebudayaan untuk disukai)
f. Procedure
Right (hak untuk mendapatkan perlakuan atau tata cara peradilan dan
perlindungan, misalnya penangkapan, penahanan, penggeledahan.
5.
Pengertian keadilan sosial
Keadilan
sosial mempunyai satu arti yaitu Social Justice, yang sangat erat berhubungan
erat dangan suatu isme, ajaran, atau pandsangan hidup. Kata keadilan sosial dan
Kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung makna gotong-royong, jadi tidak
ada hubungannya dengan keadilan komutatif dan keadilan distributif., walau
azasnya tetap bersumber pada pengertian keadilan seperti dijelaskan didepan.
Keadilan
sosial pengertiannya juga untuk kepentingan sosial, kepentingan bersama,
kepentingan komunal. Gotong-royong mempunyai arti suatu usaha bersama,
pelaksanaan bersama atau mengerjakan suatu peranan bersama yang hasilnya
dimanfaatkan untuk kemakmuran bersama. Didalam suatu negara, kemakmuran bersama
atau kesejahteraan sosial dan tercapai jika ada keadilan sosial.
Kejujuran
Kejujuran, menurut
Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti kelurusan hati atau ketulusan hati.
Seseorang dikatakan jujur apabila ia memiliki kelurusan atau ketulusan hati.
Hati yang tulus atau lurus adalah hati atau perasaan yang ada pada diri
seseorang dan memiliki nilai yang baik. Lawan dari seseorang yang hatinya jujur
ialah orang yang hatinya tidak bersih dan bersifat curang, sehingga tidak baik dan
biasanya bicaranya berbelit-belit.
Kejujuran bersangkut
erat dengan masalah nurani.Menurut M. Alamsyah dalam bukunya budi nurani,
filsafat berfikir, yang disebut nurani adalah sebuah wadah yang ada dalam
perasaan manusia. Di dalamnya tersimpan getaran kejujuran atau ketulusan yang
selalu mengarah kepada kebenaran lokal maupun kebenaran ilahi. Apabila
dikembangkan, nurani dapat menjadi budi nurani yang merupakan wadah yang
menyimpan keyakinan. Jadi, getaran kejujuran ataupun ketulusan dapat
ditingkatkan menjadi suatu keyakinan. Atas keyakinan yang terdapat dalam diri
seseorang, kita dapat mengetahui kepribadiannya. Oleh karena itu, kita dapat
menilai bahwa orang yang memiliki ketulusan tinggi akan memiliki keyakinan yang
matang, sebaliknya seseorang yang hatinya tidak bersih dan mau berpikir 11
curang memiliki kepribadian yang buruk dan rendahdan sring tidak yakin kepada
dirinya. Apa yang ada dalam nuraninya banyak dipengaruhi oleh pemikirannya yang
kadang-kadang justru bertentangan. [32]
Dengan bertolak ukur
dari hati nuraninya, seseorang dapat ditebak dengan perasaan moril dan
susilanya, yaitu perasaan yang dihayati apabila harus menentukan pilihan,
apakah hal itu baik atau buruk, benar atau salah. Hati nurani selalu bertindak
sesuai dengan normanorma kebenaran. Manusia yang mau mengikutinya akan memiliki
kejujuran dan menjadi manusia jujur. Sebaliknya, orang yang secara
terus-menerus berpikir atau bertindak bertentangan dengan hati nuraninya, akan
selalu mengalami konflik batin. Ia akan terus mengalami ketegangan dan sifat
kepribadiannya yang semestinya tunggal jadi terpecah. Keadaan ini akan sangat
berpengaruh pada jasmani ataupun rohaninya, sehingga dapat menimbulkan penyakit
yang disebut psikoneurosa, Adapun wujud dari perasaan etis atau susila ini
antara lain dapat berupa kesadaran akan kewajiban, rasa keadilan, dan juga
ketidakadilan. Nilai-nilai etis tersebut diambil berdasarkan kaitannya antara
hubungan manusia yang satu dan manusia yang lain.
Selain nilai etis yang
terkait erat antar sesama manusia, hati nurani terkait erat juga dalam hubungan
antara manusia dan Tuhan. Dalam hal ini, manusia yang memiliki budi nurani yang
amat peka dalam hubungannya dengan tuhan adalah manusia agama yang selalu ingat
kepada-Nya sebagai sang pencipta, selalu mematuhi apa yang diperintah-Nya,
berusaha untuk tidak melanggar larangan-Nya, selalu mensyukuri apa yang
diberikan-Nya, selalu merasa dirinya berdosa apabila tidakmenuruti apa yang
digariskan-Nya, dan akan selalu gelisah tidur apabila belum menjalankan ibadah
untuk-Nya. Dalam sebuah hadits di sebutkan yang artinya sebagai berikut :
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda: “Hendaklah engkau
berbuat jujur, sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebajikan dan
kebajikan akan menunjukkan ke surga. Orang yang menetap kepada kejujuran dan
terus menerus berada dalam kejujuan sehingga dia dicatat oleh Allah sebagai
orang yang jujur. Janganlah engkau berbuat dusta, sesungguhnya dusta akan
menunjukkan kepada kedurhakan, dan kedurhakaan akan menunjukkan kepada neraka.
Orang yang menetap dalam dusta dan terus menerus melakukan dusta sehingga
dicatat oleh Allah sebagai pendusta. (H.R. Muttafaqun Alaih)
Kecurangan
Kecurangan atau curang identik dengan
ketidakjujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik, meskipun tidak
serupa benar. Curang atau kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai
dengan hati nuraninya atau, orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang
dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan berusaha.
Kecurangan menyebabkan orang menjadi
serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar
dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya, dan senang bila
masyarakat disekelilingnya hidup menderita. Bermacam-macam sebab orang
melakukan kecurangan.
Ditinjau dari hubungan manusia dengan
alam sekitarnya, ada 4 aspek yaitu aspek ekonomi, aspek kebudayaan, aspek
peradaban dan aspek teknik. Apabila keempat aspek tersebut dilaksanakan secara
wajar, maka segalanya akan berjalan sesuai dengan norma-norma moral atau norma
hukum. Akan tetapi, apabila manusia dalam hatinya telah digerogoti jiwa tamak,
iri, dengki, maka manusia akan melakukan perbuatan yang melanggar norma
tersebut dan jadilah kecurangan.
Yang dimaksud dengan kecurangan (fraud)
sangat luas dan ini dapat dilihat pada butir mengenai kategori kecurangan.
Namun secara umum, unsur-unsur dari kecurangan (keseluruhan unsur harus ada,
jika ada yang tidak ada maka dianggap kecurangan tidak terjadi) adalah:
a. Harus
terdapat salah pernyataan (misrepresentation) dari suatu masa lampau (past)
atau sekarang (present).
b. Fakta
bersifat material (material fact) dilakukan secara sengaja atau tanpa
perhitungan (make-knowingly or recklessly) dengan maksud (intent) untuk menyebabkan
suatu pihak beraksi.
c. Pihak
yang dirugikan harus beraksi (acted) terhadap salah pernyataan tersebut
(misrepresentation) yang merugikannya (detriment).
Kecurangan dalam tulisan ini termasuk
(namun tidak terbatas pada) manipulasi, penyalahgunaan jabatan, penggelapan
pajak, pencurian aktiva, dan tindakan buruk lainnya yang dilakukan oleh
seseorang yang dapat mengakibatkan kerugian bagi organisasi/perusahaan.
Terdapat empat faktor pendorong
seseorang untuk melakukan kecurangan, yang disebut juga dengan teori GONE,
yaitu:
a. Greed
(keserakahan)
b. Opportunity (kesempatan)
c. Need (kebutuhan)
d. Exposure
(pengungkapan) Faktor Greed dan Need merupakan faktor yang berhubungan dengan
individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual). Sedangkan faktor
Opportunity dan Exposure 13 merupakan faktor yang berhubungan dengan organisasi
sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor generik/umum).
Pemulihan
Nama Baik
Pemulihan nama baik
berarti mengembalikan nama baik seseorang yang semula dinilai tidak baik,
sehingga pada saat penilaian tersebut ditiadakan atau dicabut, orang tersebut
akan memiliki nama baiknya kembali. Dalam hubungannya dengan keadilan,
merupakan hal yang adil dan manusiawi apabila seseorang yang pada suatu waktu
dinilai sudah baik, berhak memperoleh nama baiknya kembali. Di sini lebih jelas
lagi letak kelebihan manusia daripada makhluk tuhan yang lain, yaitu memiliki
nama yang bisa baik, sehingga martabatnya sebagai makhluk tertinggi dapat
ditentukan tinggi atau rendah. Berhubungan dengan pengembalian nama baik ini,
dalam pemerintahan dikenal adanya rehabilitasi martabat, yaitu pemulihan
martabat dalam nama baik, disertai atau tidak disertai ganti rugi, dan
pemulihan jabatan atau kedudukan seseorang yang telah dikenakan hukuman administrasiatau
pengadilan yang menyebabkan ia kehilangan martabatnya. Rehabilitasi dalam
pengertian demikian bisa juga dilakukan pengadilan kepada seseorang yang
dinyatakan pailit oleh pengadilan. Namun setelah semua orang yang berpiutang
kepadanya kemudian menyatakan telah lunas, berarti orang yang berutang telah
membayar atau melunasi utangnya.
Dalam kaitannya dengan
pemerintahan, hanya presiden RI-lah yang mempunyai hak memberikan rehabilitasi
(UUD 1945 bab III pasal 14). Erat kaitannya dengan rehabilitas adalah grasi,
amnesti, dan abolisi. Grasi berasal dari kata gratia yang berarti rahmat atau
karunia, sehingga grasi berarti pengampunan hukuman, baik sebagian maupun
seluruhnya. Dalam arti tertentu, grasi adalah penghapusan sepenuhnya atau
bersyarat, pengurangan atau penggantian hukuman. Grasi inipun dalam
pemerintahan diberikan oleh presiden RI berdasarkan UUD 1945. [33]
Sedangkan amnesti
adalah pengampunan terhadap seseorang yang melakukan kesalahan dan telah
diadili, tetapi diberikan pengampunan dibebaskan dari keputusan menjalani
hukuman, amnesti dapat juga diberikan kepada mereka yang sedang menjalani
hukuman. Misalnya, pemberian amnesti pada hari kemerdekaan atau pada hari ulang
tahun penguasa atau sebagai perjudia politik. Dalam amnesti, kesalahan tetap
kesalahan, jadi tidak sama dengan kebebasan tuduhan [34]
Akhirnya yang disebut
abolisi adalah penghapusan tindak pidana serta penghentian penuntutan pidana
serta penghentian penuntutan pidana.Jika hal ini telah dijalankan, tindak
pidana serta akibat-akibatnya dianggap tidak pernah ada 14 Dari keempat
pengertian tersebut di atas, yaitu rehabilitasi, grasi, amnesti, dan abolisi
dapatlah ditarik kesimpulan bahwa melalui UUUD 1945 Bab III Pasal 14, presiden
RI dapat memberi jalan bagi warga negaranya yang salah untuk memulihkan nama
baiknya melalui tingkatan-tingkatan tertentu. Bergantung pada kesalahan yang
dilakukan serta kesempatan yang diberikan. Kiranya ini juga dapat diartiakan
sebagai perwujudan dari sila kedua pancasila.[35]
Nama baik merupakan
tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap
orang menajaga dengan hati-hati agar namanya baik. Lebih-lebih jika ia menjadi
teladan bagi orang/tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak
ternilai harganya. Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku
atau perbuatan. Atau boleh dikatakan nama baik atau tidak baik ini adalah
tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan
itu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi,
cara menghadapi orang, perbuatn-perbuatan yang dihalalkan agama dan sebagainya.
Pada hakekatnya pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala
kesalahannya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau
tidak sesuai dengan ahlak yang baik. Untuk memulihkan nama baik manusia harus
tobat atau minta maaf. Tobat dan minta maaf tidak hanya dibibir, melainkan
harus bertingkah laku yang sopan, ramah, berbuat darma dengan memberikan
kebajikan dan pertolongan kepaa sesama hidup yang perlu ditolong dengan penuh
kasih sayang , tanpa pamrih, takwa terhadap Tuhan dan mempunyai sikap rela,
tawakal, jujur, adil dan budi luhur selalu dipupuk.
Pembalasan Pembalasan
adalah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa
perbuatan serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah
laku yang seimbang. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa
Tuhan mengadakan pembalasan. Bagi yang bertakwa kepada Tuhan diberikan
pembalasan, dan bagi yang mengingkari perintah Tuhan pun diberikan pembalasan
yang seimbang, yaitu siksaan di neraka. Pembalasan disebabkan oleh adanya
pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapatkan pembalasan yang bersahabat.
Sebaliknya, pergaulan yang penuh kecurigaan, menimbulkan pembalasan yang tidak
bersahabat pula. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk moral dan makhluk
sosial. Dalam bergaul, manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan
moral itu. Bila manusia bermuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya.
Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar hak dan
kewajiban manusia lain. Oleh karena itu manusia tidak 15 menghendaki hak dan
kewajibannya dilanggar, maka manusia berusaha mempertahankan hak dan
kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan.
BAB II
PENUTUP
Dari
pembahasan ini dapat ditarik suatu kesimpulan :
Cinta-kasih mencakup seluruh obyek,
tanpa mengenal agama, bangsa, dan suku, oleh karena itu cinta-kasih bersifat
abadi. Cinta-kasih didasarkan oleh rasa tanggung-jawab, bukan rasa ingin
memiliki; sehingga cinta-kasih tidak mengenal rasa cemburu, dengki dan iri.
Penderitaan disebabkan oleh rasa
kurang dan rasa takut terhadap sesuatu. Penderitaan termasuk penyakit batin
manusia. Oleh karena itu, cara mengatasi penderitaan adalah dengan menumbuhkan
kesadaran diri terhadap eksistensi Tuhan. Setiap orang akan mendapatkan
penderitaan yang bentuk dan sifatnya berbeda, maka dalam kehidupan kita apabila
siap menerima cinta harus siap pula menerima penderitaan yang mungkin saja akan
terjadi.
Keadilan sangat berpengaruh terhadap
kehidupan sosial. Yang menjadi ukuran dalam keadilan adalah hak dan kewajiban.
Hak adalah bayaran atas pemenuhan kewajiban, sementara kewajiban adalah hal
yang harus diselesaikan sebagai tanggung jawab atas jabatan atau peran
seseorang. Keadilan pada umumnya sulit diperoleh. Dalam hal ini setiap manusia
dalam memperoleh keadilan biasanya memerlukan pihak-pihak terkait atau pihak
ketiga sebagai penengah dengan harapan pihak tersebut dapat bertindak adil
terhadap pihak-pihak yang berselisih.
DAFTAR PUSTAKA
Syafrudin dan Meriam, Sosial Budaya Dasar Untuk Mahasiswa
kebidanan, Jakarta : Trans Info Media, 2010.
Supartono, Ilmu Budaya Dasar, Bogor : Ghalia Indonesia, 2004.
Djoko Widagho, dkk, Ilmu Budaya Dasar, Jakarta : Bumi Aksara, 2008.
Lies Sudibyo, dkk, Ilmu Sosial Budaya Dasar, Yogyakarta : Andi Offset, 2013.
Munandar Solaeman, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar, Bandung : Refika Aditama, 2012.
Sujarwa, Manusia dan Fenomena Budaya Menuju Perspektif Moralitas Agama, Yogyakarta, Uin Ahmad Dahlan Yogyakarta-Pustaka Pelajar
2010.
Tasmuji,
dkk, IAD-ISD-IBD, Surabaya: Uinsa
Press, 2018.
M.Syukri Albani Nasution, dkk, Ilmu Sosial Budaya Dasar, Jakarta:
Rajagrafindo Persada.
M.
Alamsyah. budi nurani, filsafat berfikir,
1986.
Ensiklopedia Indonesia, Ichtiar Baru-Van
Hoeve, Edisi Khusus, 2871.
[1]
Syafrudin dan Meriam. Sosial Budaya Dasar
Untuk Mahasiswa kebidanan. (Jakarta : Trans Info Media, 2010), 18.
[2]
Supartono. Ilmu Budaya Dasar. (Bogor
: Ghalia Indonesia, 2004), 49.
[3]
Djoko Widagho, dkk. Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta
: Bumi Aksara, 2008), 38.
[4]
Lies Sudibyo, dkk. Ilmu Sosial Budaya
Dasar, (Yogyakarta : Andi Offset, 2013), 39.
[5]
Ibid, 39.
[6]
Ibid, 40.
[11]
Ibid, 76.
[12]
Ibid, 71.
[13]
Ibid, 72.
[15]
Ibid, 73.
[16]
Ibid, 75.
[17]
Ibid, 77.
[18]
Ibid, 78.
[19]
Ibid, 79.
[20]
Syafrudin, dkk. Ssosial Budaya Dasar
Untuk Kebidanan, (Jakarta : Trans Info Media 2010), 29.
[21] Supartono
W, Ilmu Budaya Dasar (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2004), 102
[22]
Lies Sudibyo, dkk.Ilmu Sosial Budaya
Dasar, (Yogyakarta : Andi Offset 2013), 120.
[23]
Sujarwa. Manusia dan Fenomena Budaya
Menuju Perspektif Moralitas Agama, (Yogyakarta, Uin Ahmad Dahlan Yogyakarta-Pustaka Pelajar
2010),
[24]
Tasmuji, dkk. IAD-ISD-IBD, (Surabaya:
Uinsa Press, 2018), 190.
[25]
Ibid, 190
[26]
Sujarwa. Manusia dan Fenomena Budaya
Menuju Perspektif Moralitas Agama, (Yogyakarta, Uin Ahmad Dahlan Yogyakarta-Pustaka Pelajar
2010), 62.
[27]
Lies Sudibyo, dkk. Ilmu Sosial Budaya
Dasar, (Yogyakarta: Andi Offset, 2013), 122-123.
[28]
Munandar Soelaeman. Ilmu Budaya Dasar, (
Bandung: Refika Aditama), 87.
[29] M.Syukri
Albani Nasution, dkk. Ilmu Sosial Budaya Dasar, (Jakarta:
Rajagrafindo Persada), 156-157.
[30]
Ibid, 158.
[31] Lies
Sudibyo, dkk. Ilmu Sosial Budaya Dasar, (Yogyakarta:
Andi Offset, 2013), 73-77.
[32]
M. Alamsyah. budi nurani, filsafat
berfikir, (1986), 83.
[33] ensiklopedia
Indonesia, Ichtiar Baru-Van Hoeve, Edisi Khusus, 2871.
[34]
Ibid, 1167.
[35] Ibid,
200.
Langganan:
Komentar (Atom)